Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

Thursday, January 8, 2009

Lebih Dari Setahun-7

  “Gimana, mau nggak?” tanya Lily sekali lagi.                                                                

      “Sorry, kapan-kapan aja deh, lagi pengen nulis surat nih.”

      “Oh, ya udah deh..aku ke kamar Erik dulu.” Lily keluar dari kamar Maya dengan kecewa. Kadang-kadang ia memang tidak bisa mengerti sikap Maya. Tidak ada salahnya Maya pergi ke dapur sebentar dan berbincang-bincang dengan mereka. Tapi memang, sejak mereka bersama-sama belajar bahasa Jepang secara intensif di Jakarta, Lily sudah merasa bahwa Maya agak sulit dimengerti. Kadang-kadang ia bisa bercanda dan berceloteh dengan ceria dan centil, sekejap kemudian dia sudah menjadi serius dan dingin. Tidak perduli bagaimanapun keadaan sekeliling, Maya tidak pernah terpengaruh, dia punya pace sendiri.

 

       “Erik, mau ikut nyobain masakan Kak Ali nggak sama aku dan Japri di dapur lantai 2? “

       “Ooo...boleh.” Erik menjawab pendek, kemudian keluar dan mengunci kamarnya. Reaksinya jauh berbeda dengan Maya.

       “Tadi makan di mana sama senpai-senpai yang lain? “

       “Di Denny’s.” Denny’s adalah sebuah famiresu, singkatan dari  family resutoranto. Family restaurant di Jepang adalah tempat yang paling pas untuk makan bersama banyak orang karena mejanya besar-besar dan menunya bermacam-macam. Biasanya famiresu di Jepang dipegang oleh sebuah perusahaan besar yang membuka cabangnya di mana-mana dengan nama yang sama. Di mana-mana bisa ditemukan Denny’s, Royal Host, Sky Lark, Jonathan, Bld’y, semuanya hampir sama dengan sedikit variasi menu dan konsep yang berbeda.

 

       “Pulangnya udah lama?”

       “Hmm...satu jam yang lalu.” Tiba-tiba Lily terkikik geli.

       “Kenapa?”

       “Erik, kamu kalo ngomong, nggak pernah lebih dari satu kalimat ya?”

       “Eh..?!” Erik yang kaget karena dikritik langsung tidak bisa menjawab apa-apa an dan tersenyum saja. Erik kaget, sekaligus bingung. Semua orang di sekelilingnya tahu dia pendiam dan tidak terlalu mengusiknya. Mereka selalu membiarkannya tenggelam dalam dunianya sendiri. Sampai saat ini baru Lily saja yang pernah menembaknya dengan pertanyaan yang demikian langsung.

 

        Setelah makan malam Ali pun pamit dan pulang. Akhirnya..., pikir Lily. Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Lily di lantai dua, lantai untuk anak perempuan dan, Japri di lantai 3 dan Erik di lantai 1, lantai untuk anak laki-laki.

Asrama mereka ini memang hanya terdiri dari 3 lantai. Bentuknya sama seperti bentuk standar asrama-asrama lainnya. Lorong panjang yang diapit oleh pintu-pintu kamar penghuni di kanan-kirinya. Di ujung lorong ada sebuah jendela besar yang menghadap ke halaman dan di ujung yang lainnya adalah pintu darurat. Di setiap lantai ada shower room dan WC yang terpisah. Kemudian dapur dan ruang cuci baju yang berisi 2 mesin cuci yang hanya bekerja kalau dimasukkan uang logam 100 yen, dan alat pengering yang menempel di tembok, yang juga tidak gratis.

 

       Lily masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di kasurnya yang sekarang diselimuti bed cover kotak-kotak merah muda dan putih. Dindingnya juga telah selesai dilapisi dengan kertas kado yang berwarna senada. Keset kakinya juga. Lily sengaja memilih warna merah muda pucat karena dipikirnya warna ini akan serasi dengan warna karpet yang merah tua dan kusam. Tapi ternyata tidak membantu banyak.

       “Tok tok” Lily membuka pintu dan di depan kamarnya Erik berdiri.

       “Ly..wow..” Erik tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Begitu Lily membukakan pintu ia dapat melihat dinding kamar Lily yang seolah-olah dilapisi wall paper.

        “Bagus ya?” Lily pun membuka kamarnya lebih lebar lagi untuk memamerkannya. Erik memandang berkeliling dan terkagum-kagum.

 

         Hi Lily ..oh wow..what did you do to your room?” Tiba-tiba gadis Rumania penghuni kamar seberang keluar dari kamarnya sambil memegang sebuah gelas berisi susu di tangannya. Ia mengenakan piama bergaris-garis warna biru muda. Rambutnya yang pirang diikat asal-asalan.

         Oh...I couldn’t stand the dirty wall.” Lily tersenyum bangga memperlihatkan hasil karyanya kepada gadis Rumania yang bernama Francesca ini.

         Oh, hi, how do you do ?”  Francesca pun menoleh ke Erik dan menyapanya dengan ramah. Erik mengangguk tersenyum.

         “Kalian sama-sama dari Indonesia ? “ Tanyanya ramah.

         Yes.” Erik menjawab, lagi-lagi dengan pendek.

         O really ? But you two look different. It’s hard to tell you both came from the same country.” Francesca pun memandang Lily dan Erik bergantian.

         Well, I’m real Indonesian, Erik is Chinese Indonesian.”

         O, I see....I thought you came from China.” Erik hanya tersenyum-senyum saja. Francesca tertawa terkekeh-kekeh.

         There are many, many kinds of people in Indonesia.” Lily pun menambah penjelasannya.

            Ok, now that I learn something, I’ll go and warm my milk.” Francesca tersenyum dan pergi ke dapur untuk menghangatkan susunya dengan microwave.

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.

Tuesday, December 9, 2008

Lebih Dari Setahun-6

Senpai-senpai pada ngajakin makan.” Erik segera memecah kesunyian.

 “ Ooo...saya sudah janji sama Japri, kita mau masak malam ini. Lagipula Lily kalau kamarnya nggak diberesin malam ini bisangggak tidur lagi nih.” Lily kaget mendengar ucapan Ali. Dia sebenarnya ingin ikut makan bersama yang lain-lain dan melepaskan diri dari Ali.

 “Oo...kalau gitu kita pergi dulu ya.” Maya mengangguk dengan penuh pengertian ke arah Erik. Erik pun segera mengerti dan mereka berdua pergi.

 “Yang ini mau diapain Ly?” Ali mengeluarkan segulung besar kertas kado berwarna merah muda pucat.

 “Oh...itu mau dibuat wall paper.

 “Ini ditempel semua di tembok?” Ali agak kaget. Walaupun kamar Lily kecil, bukanlah pekerjaan yang mudah untuk menutupi seluruh dindingnya dengan kertas kado berwarna.

 “Iya, habis temboknya kotor banget sih.” Ali memandang ke seluruh kamar, cat tembok mengelotok di sana-sini, bekas tempelan penghuni-penghuni sebelumnya. Bangunan ini sudah berdiri berpuluh-puluh tahun lamanya, dan setiap tahun selalu ditinggali oleh murid-murid dari luar negeri untuk belajar bahasa Jepang selama satu tahun. Tidak heran kalau setiap tahun dekorasi tiap kamar pun berganti sesuai selera penghuninya.

 

 

 “Oh iya ya..kotor banget, iya deh, aku yang kerjain.” Lily sekarang sudah benar-benar terperangkap. Aduh, pikirnya, mau sampai kapan nih Kak Ali di sini terus!

      Selama hampir tiga jam Ali dan Lily tak henti-hentinya menempeli dinding kamar Lily dengan kertas kado. Selama itu Ali banyak bercerita tentang dirinya. Lily, walaupun merasa tidak nyaman berduaan saja dengan Ali, tidak ingin menyinggung perasaan senpai-nya, ia tetap bersikap ramah.

      “Kak, mau makan sekarang nggak?” Japri muncul dengan membawa sebuah kantong plastik besar.

      “Makan sekarang yuk, Ly?” Lily mengangguk. Perasaan lega mengalir memenuhi dirinya. Bertiga bersama Japri jauh lebih baik daripada berduaan saja.

Di dapur umum, Ali, yang sudah dua tahun hidup mandiri di Jepang mempertunjukkan kebolehannya memasak sementara Lily dan Japri kebagian tugas memotong sayuran.

       “O iya, ajak Maya dan Erik juga kali ya, siapa tahu mereka juga mau nyicip-nyicip” Lily tiba-tiba teringat akan mereka berdua. Tatapan mata Maya dan Erik yang gugup di depan pintu kamarnya waktu melihatnya berduaan saja dengan Ali tak lepas-lepas dari benaknya. Ia takut semua orang berpikir bahwa ia dan Ali punya hubungan khusus, bisa-bisa Maya dan Erik menjauhinya hanya karena mereka merasa perlu memberi waktu pribadi untuk dirinya dan Kak Ali.

 

 

       “Maya lagi ngapain?” Lily membuka pintu kamar Maya setelah dipersilahkan masuk. Maya yang duduk menghadapi meja belajarnya menoleh, “Lagi nulis surat buat temen.”

       “Lho, kenapa nggak pake mail aja? ‘Kan lebih cepet nyampe, nggak pegel nulis lagi.”

       “Lain Ly, rasanya, nerima mail sama nerima surat di kotak pos.”

       “Mau makan sama2 nggak? Masakan Kak Ali.”

       “Nggak ah, takut mengganggu” Maya mengedipkan matanya. Lily mengernyitkan keningnya, hal yang ditakutkannya sudah terjadi.

       “Nggak kok, orang kita makan malam bertiga sama Japri.”

       “Ooo...pantesan Japri juga nggak mau diajak ya,  mereka masak daging halal ya?”

       “Iya tuh, katanya, mau bikin kari ayam.”

 

        Di Jepang, negara yang penduduknya boleh dibilang tak beragama, sangat sulit bagi pemeluk agama Islam untuk bisa makan di luar, karena jarang ada makanan halal. Kalau pun makan di luar, mereka memesan sea food. Ada tempat-tempat khusus yang menjual daging halal. Toko khusus daging halal ini sudah  menjadi tempat wajib kunjung bagi para pendatang baru yang beragama Islam, khususnya murid-murid Indonesia dan Malaysia. Ali juga telah mengantarkan Japri ke toko ini pada hari kedua Japri di Jepang.

Tuesday, October 21, 2008

Lebih Dari Setahun-4

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan cepat dan melelahkan. Begitu banyak yang harus mereka lakukan. Keesokkan harinya mereka harus menandatangani berkas-berkas dari bank untuk membuka rekening di mana beasiswa mereka akan dikirimkan oleh pemerintah Jepang.Berkas-berkas yang harus ditulis dengan huruf Jepang, katakana untuk nama mereka dan kanji untuk alamat mereka.

 

 

Bahasa Jepang memakai tiga huruf  secara bersamaan. Hiragana, lekukannya yang lembut seolah mengutarakan asal-usul bagaimana huruf ini dulunya hanya dipakai oleh kaum wanita kerajaan , dipakai untuk kata-kata Jepang asli, katakana yang tarikannya lebih tegas dan kaku dahulu merupakan alat komunikasi tertulis samurai-samurai kelas atas dalam shogun-pemerintahan militer,  dipakai untuk kata-kata asing yang diserap dari luar negeri, misalnya aisu kuri-mu-ice cream, chokore--to-coklat, atau nama-nama orang asing juga. Kemudian kanji, huruf serapan hasil interaksi dengan Cina di masa lampau, yang dipakai untuk istilah-istilah yang telah baku.

 

 

       “Terus tulis alamatnya gimana , Kak?” Di samping Lily, Ali, salah seorang senpai yang menyambut kedatangan mereka kemarin sibuk megajarinya bagaimana mengisi berkas-berkas yang sekian banyaknya. Selain berkas-berkas rekening bank, mereka juga harus mengisi format administratif dari sekolah dan juga surat pengurusan kartu identitas selama mereka di Jepang.

 

 

       Maya melihat ke sekelilingnya. Mereka sedang berada di dalam sebuah ruang kelas yang agak tua. Sebuah papan tulis di depan dan bangku-bangku panjang yang berbaris di atas lantai yang bertingkat-tingkat seperti gedung bioskop. Di sana-sini terdapat kelompok-kelompok kecil senpai-kohai dari berbagai negara, sama seperti kelompok mereka sekarang. Di dekat papan tulis duduk kelompok dari Malaysia, yang di dekat pintu masuk adalah kelompok dari Kamboja, kemudian berturut-turut di baris belakangnya kelompok Singapura, Australia, Filipina, dan beberapa orang lagi yang dibantu langsung oleh sensei-sensei. Ia sempat berkenalan dengan beberapa orang malam sebelumnya. Tepatnya, Lily yang dengan aktif mengajak orang-orang berkenalan, sementara dia yang berada di dekatnya juga jadi ikut-ikutan berkenalan. Maya melihat Lily yang duduk di ujung bangku yang sedang didudukinya. Sementara Erik, Japri dan ia sendiri diajari bagaimana cara mengisi formulir-formulir ini secara bersamaan, Kak Ali dengan setianya duduk di samping Lily dan mengajarinya satu-persatu.

 

 

Apa sih yang menarik dari Lily? begitu pikirnya. Wajahnya biasa-biasa saja, rambutnya yang ikal itu malah kadang-kadang terlihat kusam dan berantakan. Maya tidak mengerti mengapa Lily begitu cepat mengakrabkan diri dengan orang-orang baru. Tadi pagi ketika mereka menyantap makan pagi di shokudou-kantin di mana mereka kemarin disambut para senpai, sudah ada 5 orang dari negara lain yang menyapanya.

 

 

Hi Lily, did you sleep well ?” sapaan yang biasa saja, tapi sapaan-sapaan itu cuma ditujukan untuk Lily, padahal mereka sedang makan pagi berempat. Kak Ali duduk di sebelah Lily dan mereka berdua tampak begitu asik tertawa-tawa padahal mereka hanya mengisi berkas-berkas yang membosankan, sama seperti dirinya.

Tuesday, October 14, 2008

Lebih Dari Setahun-3

      Hari itu mereka menyantap bento pertama mereka dikelilingi 20-an orang senpai yang namanya langsung terlupakan segera setelah selesai berkenalan. Mereka terlalu banyak untuk bisa diingat dalam sekejap. Bento adalah lunch box khas Jepang yang lauknya macam-macam, mulai dari tempura, yakiniku, potato salad, sampai asinan lobak dan wortel. Semuanya tertata rapi dalam box styrofoam yang bersekat-sekat. Di tengah-tengahnya terdapat  nasi putih yang mengepul dihiasi sebutir umeboshi-semacam aprikot Jepang sebesar kelereng yang diasinkan, kemudian di sekelilingnya diletakkan lauk-lauk lainnya.

 

 

       “Ini tradisi dari tahun ke tahun lho, senpai-senpai pasti nraktir bento pertama kohai-kohai.”

       “Kalian juga tahun depan mesti begini sama kohai kalian”

       Kohai itu apa sih ? Kok dari tadi sering banget dipake?” tanya Lily sambil berusaha keras membiasakan jari-jarinya dengan sumpit yang hampir tidak pernah dipakainya.

       Kohai itu artinya adik kelas, senpai itu artinya kakak kelas. Kita senpai, kalian kohai.

       “Lily sama Japri susah ya pake sumpitnya?” Seorang senpai perempuan dengan senyum yang manis menanyakan dengan ramah.

       “Iya nih..jarang makan pakai sumpit sih.Gimana sih cara megang yang bener ?” Seorang senpai lain segera mendemonstrasikan bagaimana cara memakai sumpit yang benar kepada Lily. Senpai-senpai lainnya juga tidak mau kalah dan masing-masing mengutarakan teori memegang sumpit mereka.

       “Ah, ngaco kamu Di, bukan gitu caranya !! Gini nih!!!”

       “Ah, dasar kamu cuma ngomong doang.  Yang sampe setahun di Jepang masih bawa-bawa sendok dan garpu ke mana- mana kan kamu juga!! “ Suara tawa mereka semua memenuhi ruangan.

 

 

Hanya Japri yang tidak bisa tertawa lepas, ia menyengir sinis. Ia merasa disindir. Tentu saja Maya dan Erik terbiasa memakai sumpit,, mereka Cina. Cukup melihat sekali saja untuk mengetahui hal itu. Kulit mereka tidak segelap dirinya, mereka berdua berasal dari SMA yang sama, yang murid-muridnya 80% Cina semua. Erik sempat bersekolah di Amerika sambil menunggu pengumuman apakah ia bisa ke Jepang atau tidak. Maya selalu diantar jemput supirnya setiap kali mereka semua harus pergi ke kedutaan besar Jepang di Jakarta atau pergi kursus bahasa Jepang intensif di pusat kebudayaan bahasa Jepang di Jakarta dulu. Berbeda dengan dirinya yang harus naik bus PATAS pulang pergi ke tempat kosnya yang tidak ber-AC, yang baru pernah pertama kali ke luar negeri, yang lebih sering makan dengan tangan daripada sendok dan garpu, apalagi sumpit.

Sunday, October 12, 2008

Lebih Dari Setahun-2

        “Konnichiwa, youkoso selamat datang” seorang wanita Jepang setengah baya berambut keriting sebahu keluar dari pintu depan yang terbuat dari kaca diikuti 3 orang pemuda yang terlihat seperti orang Indonesia.Lily, Maya, Japri dan Erik menurunkan barang-barang mereka dari dalam bagasi. Wanita Jepang yang kemudian mereka panggil sensei , guru, membayar taksi mereka, sementara itu mreka menurunkan barang-barang dan berkenalan dengan tiga pemuda yang juga menyambut mereka. Ketiga pemuda ini ternyata juga adalah pelajar-pelajar Indonesia yang mendapat beasiswa yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka sekarang sudah duduk di bangku universitas dan khusus datang untuk menyambut adik-adik kelasnya.

 

 

         “Aduh lihat meterannya sampe takut deh, gimana cara bayarnya nih, kalo dirupiahin udah berjuta-juta.” Lily yang memang selalu ceria dalam sesaat sudah berceloteh dengan akrab dengan salah satu pemuda yang menyambut mereka.

        “Ah, jangan takut, semuanya sekolah yang bayar kok.” Maya menggigil kedinginan, baju hangatnya yang dibeli di Jakarta tidak cukup menghangatkan tubuhnya. Dia memang pernah beberapa kali ke luar negeri, tapi hanya pada musim panas saja. Musim semi ini adalah yang pertama baginya. Dingin. Seolah-olah AC juga dipasang di luar ruangan.

 

 

         Begitu masuk ke dalam gedung ternyata sudah ada belasan senpai lainnya yang menunggu kedatangan mereka. Ada yang sedang mengambil master, ada yang masih tingkat satu, dua, tiga dan empat.

         Ja, heya wo kimemashoune..sensei menyodorkan Erik sebuah kotak biru berisi kertas-kertas kecil yang terlipat dan menunjuk–nunjuk ke dalamnya. Tampaknya sensei memintanya mengambil undi. Erik mengambil sebuah kertas dan Japri pun mengikutinya. Maya dan Lily mengambil kertas mereka masing-masing dari kotak berwarna merah.

         “Apa sih ini Kak ?” Tanya Lily.

         “Nomor kamar.”

         “Ooo…” mereka berempat mengangguk-angguk dan kemudian dibantu beberapa senpai lain mereka meletakkan barang-barang di kamar masing-masing.

 

 

         Lily masuk ke kamarnya dan terkesiap. Kamar barunya begitu kecil dan kotor. Ada sebuah kasur, meja belajar, sebuah lemari baju dan rak buku. Cahaya matahari sore yang jatuh di atas kasur yang akan ditidurinya untuk setahun penuh membuat kasurnya tampak lebih kuning. Butir-butir debu yang halus tampak berputar perlahan  di sepanjang alur yang ditempuh sinar matahari. Karpet yang berwarna merah tua kusam yang melapisi lantai di kamarnya tidak membuat keadaan lebih baik. Besar setiap kamar hanyalah 4x3, sama besar dengan kamar pembantu Lily di rumahnya di Jakarta.

 

 

         “Ly, katanya kalau udah selesai semua disuruh turun ke bawah sama senpai-senpai “ suara Erik mambangunkan Lily dari lamunannya. Lily memandang kamarnya sekali lagi dengan putus asa,

“Hhh….” Tanpa sadar ia menghela nafas.

“Kalau dibersihin juga jadi bagus Ly.” Erik mengangguk-angguk penuh pengertian.

“Eh..kok kamu tahu apa yang aku pikirin ? Jangan-jangan kamu juga berpikiran sama ya?” Erik tersenyum lebar-lebar dan mereka berdua tertawa bersama.

Thursday, October 9, 2008

Lebih Dari Setahun-1

          Maya melihat ke luar jendela, gugusan hijau tanah berumput perlahan-lahan semakin mendekat dan warnanya berubah menjadi abu-abu dalam sekejap. Maya mengejapkan matanya dan merasakan guncangan yang diiringi dengan suara benturan yang memekakkan telinga. Untuk beberapa saat lamanya ia duduk diam. Hidup barunya akan dimulai sebentar lagi, hidup yang seperti apa, hidup yang akan jadi seperti apa pun dia tidak tahu. Tiba-tiba Maya merasa takut, seumur hidup belum pernah ia  terpisah dari keluarganya, sekarang dia hanya sendiri, papa mamanya, adik-adiknya, semuanya sudah ia tinggal di Jakarta.

 

      “Maya, jangan bengong aja, nih , tas kamu.” Lily yang sudah berdiri mengeluarkan tas mereka satu persatu. Rambutnya yang ikal berjuntai –juntai berantakan setelah berjam-jam mereka duduk di pesawat. Tapi berbeda dengan Maya yang masih duduk tertegun dan berusah mencerna kejadian di sekelilingnya, gadis yang satu ini tidak pernah kehabisan energi dan selalu bertindak sigap dalam situasi apapun.

 

      Mereka mengambil bagasi dan menarik-narik koper mereka yang berat ke lobi kedatangan. Seorang pria Jepang berpakaian jas dan dasi  tergopoh-gopoh menghampiri mereka dengan membawa berkas-berkas di tangannya.

       Indonesia no gakusei desu ka ? Pelajar dari Indonesia ? 

       Hai  Erik menjawab dengan tegas. Pelajaran bahasa Jepang yang mereka dapat selama dua bulan mungkin masih sangat tidak memadai. Tapi setidak-tidaknya Erik sekarang sudah dapat merespon tanpa harus berpikir lama-lama apa arti pertanyaan yang diajukan.

       Kore kara takushi yobimasu node…” pria Jepang dengan name tag AIEJ di dadanya ini masih terus melanjutkan kalimatnya tanpa peduli para tamunya ini mengerti atau tidak. Erik melirik ke teman –temannya.yang lain, tidak ada satupun yang tidak mengernyitkan kening .

       “Waduh..yang aku ngerti  cuma satu kata , TAKUSHI..!!” ucapan Japri yang spontan ini langsung disambut dengan tawa cekikikan teman-temannya. Dan benar saja , tidak berapa lama sesudah itu mereka sudah berada di dalam taksi menuju asrama.

 

        Maya, Lily, Erik dan Japri adalah pelajar- pelajar Indonesia yang beruntung mendapatkan beasiswa dari pemerintah Jepang untuk belajar di negeri Sakura ini. Mereka adalah siswa-siswa lulusan SMA yang sudah melampaui seleksi yang ketat yang diadakan di berbagai kota besar di Indonesia. Mereka berempat diberikan tunjangan untuk belajar di perguruan tinggi Jepang selama empat tahun dan sekolah bahasa Jepang selama setahun sebagai persiapan.

 

       Bagi Japri yang selama ini tidak pernah melihat kota besar lain selain Cirebon, ini adalah perjalanan terjauh dan terbesar seumur hidupnya. Japri membuka mata selebar-lebarnya. Tidak satupun gedung yang boleh dilewatkan. Selama di pesawat semalaman pun dia tidak bisa tidur sama sekali. Segala sesuatunya seperti mimpi, duduk di dalam benda yang membawanya terbang lebih tinggi dari awan, pramugari-pramugari yang begitu manis dan membagikan makanan dalam boks-boks alumunium, belum lagi para penumpang yang duduk di sekitarnya tampak begitu hebat, mereka tentunya orang-orang kaya yang sudah terbiasa pulang pergi ke luar negeri dengan pesawat, begitu pikirnya. Dan sekarang ia pun jadi salah satu dari mereka! Ambisinya jauh lebih besar daripada toko buah ayahnya di pasar.

 

 Taksi mereka memasuki sebuah halaman beraspal yang tidak terlalu besar. Sebuah pohon sakura berdiri di pinggir halaman. Pada musim semi seperti ini, hampir setiap tempat di Jepang berwarna merah muda. Bunga sakura bermekaran memenuhi setiap ranting, tidak menyisakan tempat sedikit pun untuk sehelai daun. Merekahnya serpihan-serpihan kelopak merah muda pucat ini menandai dimulainya tahun ajaran baru, masa-masa paling penuh harapan dan keraguan, juga saat bermekarannya pucuk-pucuk cinta.