Friday, January 29, 2010

Tanah Air-ku

Naskah ini pernah jadi salah satu juara favorit Lomba Menulis Cerpen Remaja-Rohto 2009.  


Aku membenamkan diri di kursi empuk Shinkansen, bersiap-siap tidur. Sebuah acara televisi minggu lalu membahas alasan mengapa penumpang kereta mudah tertidur. Kereta terguncang dengan halus secara teratur setiap kali rodanya melewati sambungan rel. Irama guncangan ini hampir sama dengan irama denyut jantung. Membuat tubuh menjadi rileks. Apalagi karena aku sudah terbangun sejak jam 5 subuh.

    “Ohayou gozaimasu! Rina-san desu ne?” Seorang pria berusia sekitar 40-an menyambutku di stasiun.

    “Hai!” Uap embun keluar dari mulutku. Koriyama terletak di sebelah Utara Tokyo, dan itu otomatis berarti, beberapa derajat lebih dingin! Ia membungkukkan tubuh dalam-dalam dan memperkenalkan diri sebagai guru Sekolah Dasar Sakuragaoka, yang akan aku kunjungi. Aku pun duduk di samping kursi pengemudi. Barang-barang bawaanku di belakang. Satu set angklung, boneka-boneka berpakaian baju daerah berbagai suku di Indonesia, buah-buah mainan dari plastik: durian, sawo, srikaya, rambutan, manggis. Tidak ketinggalan pula poster-poster dan video pariwisata yang memamerkan keelokan alam Indonesia.

Sudah hampir tiga tahun aku melakukan pekerjaan ini. Memperkenalkan kebudayaan Indonesia kepada murid-murid sekolah di Jepang. Tentu saja kusesuaikan dengan jadwal kuliah sehingga tidak mengganggu pelajaran. Ini hanya sekedar pekerjaan selingan untuk memperoleh uang saku. Aku datang ke Jepang sebagai pelajar, dan sekolah adalah yang paling utama untukku. Ketika sebuah lowongan yang mencari mahasiswa-mahasiswa asing untuk mengajarkan kebudayaan negara asal kepada murid sekolah Jepang kutemukan di papan pengumuman sekolah, aku segera mendaftar. Iseng. Ternyata aku terpilih bersama 26 orang mahasiswa asing lain dari berbagai negara. Cina, Australia, Ghana, Pakistan, sebut saja! Semuanya ada. Setiap tahun ada saja murid dari negara baru yang direkrut. Kami tergabung dalam organisasi pendidikan*) yang didukung oleh Monbusho, Depdikbud Jepang. Tujuan program ini adalah untuk meningkatkan pengertian murid-murid Jepang akan kebudayaan negara lain. Diharapkan, dengan mempelajari hal-hal yang menarik dari negara lain, anak-anak Jepang ini pun menyadari akan keunikan negara mereka sendiri, dan kelak, juga bisa dengan bangga memperkenalkan negaranya kepada orang lain seperti kami.

Salju bertengger di atap-atap gedung, membungkus dahan-dahan kayu yang telanjang dan jatuh bertumpuk di kedua bahu jalan. Koriyama adalah kota kecil di Fukushima Perfecture, yang memang terkenal akan ketebalan saljunya. Di dalam hati aku bersyukur karena tinggal di Tokyo yang lebih hangat. Tulang-tulangku dibentuk di negara tropis, udara dingin bisa membuatnya berkeretak.

Mobil diparkir di halaman sekolah dan kami pun turun.

“Wahh…sekolahnya besar juga ya! Ookii !” gedung bertingkat tiga berwarna kuning gading berbentuk huruf L mengelilingi sebuah lapangan baseball menyambut kami..

“Sou desu ne..sebenarnya terlalu besar. Lantai tiga hanya kami gunakan sebagai gudang saja. Dulu memang murid kami banyak sekali.” Kim Sensei menjelaskan, akibat urbanisasi dan berkurangnya populasi orang Jepang dari tahun ke tahun, sekolah-sekolah negeri di kota kecil seperti Koriyama harus menanggung akibatnya. Megap-megap menyeimbangkan subsidi dari pemerintah dengan mutu pendidikan. Kami berjalan dengan hati-hati. Aspal terasa licin karena salju semalam sudah membeku, membentuk lapisan keras yang menyelimuti jalan bagaikan lantai gelas.

Aku mengganti sepatu dengan selop yang sudah disediakan untuk tamu. Murid-murid di Jepang mengenakan selop atau sepatu khusus yang digunakan di dalam gedung sekolah. Demikian pula dengan guru-gurunya. Itulah sebabnya rak sepatu yang berderet-deret merupakan pemandangan umum yang ditemui pertama kali seseorang menginjakkan kakinya di dalam gedung sekolah. Satu rak untuk satu murid. Di hari Valentine, anak-anak pria yang beruntung, bisa saja menemukan coklat di dalamnya. Hadiah dari penggemar yang terlalu malu untuk menyerahkan isyarat rasa suka itu secara langsung.

Dingin menyengat telapak kakiku. Selop yang diberikan sangat tipis. Lantai kayu di bawahnya terasa keras dan tidak menyambutku dengan hangat.

“Youkoso, selamat datang di SD Sakuragaoka.” Aku menunduk dalam-dalam, membalas ojigi para guru. Senang rasanya disambut dengan demikian formal. Rasanya seperti orang penting saja! Padahal di kampusku, aku bukanlah siapa-siapa. Hanya sebuah nomor induk di antara ribuan mahasiswa lain.

“Ini ruang makan siang untuk guru. Rina-san bisa istirahat di sini sambil menunggu jam pelajaran.” Masih ada setengah jam lagi sebelum aku bertugas. Kim Sensei bergegas menyedu teh hijau dan menyuguhkan dua buah mochi berisi anko, kacang merah yang sudah dihaluskan. Ia pun duduk di sampingku dan menyeruput tehnya. Uap panas membentuk kabut di kacamatanya.

“Rina-san lahir di Indonesia?”

“Eee…? Sou desu.” Aku mengiyakan dengan bingung.

“Oh…saya pikir Rina-san lahir di Cina. Orang Indonesia ‘kan kulitnya cokelat. Rina-san tidak seperti orang Indonesia.” Aku tertawa mendengarnya. Rupanya ia melempar umpan, mencari-cari bahan percakapan untuk mengisi waktu. Aku pun menyambutnya.

“Saya memang sebenarnya orang Cina. 100%! Tapi kakek saya pun lahir di Indonesia. Jadi sebenarnya saya jauh lebih Indonesia daripada Cina. Saya sudah tidak bisa bicara dalam bahasa Cina.”

“Ooo..” Dia pun mengangguk-angguk. Kemudian terdiam, menatap buih-buih di permukaan tehnya. Kali ini aku pun merasa wajib membuka percakapan.

“Shitsurei desu ga, Kim Sensei orang Korea?”

“Sou desu. Betul. Saya juga sama seperti anda. Orang Korea yang tidak bisa bicara bahasa Korea!” Kim Sensei mengakhirinya dengan tawa yang keras. Suara tawanya menghangatkan suasana dan kami pun jadi lebih lancar bercakap-cakap. Ia bercerita kalau kadang-kadang ia bingung, apakah dirinya orang Korea atau orang Jepang. Beberapa orang Korea yang ia kenal mencemoohnya karena ia sudah tidak bisa berbicara dalam bahasa Korea lagi, sementara orang Jepang selalu menggodanya, mengatakan bahwa Kim Chee adalah makanan pokoknya.

“Apa kamu tidak di-ijime?” tanyanya serius.

“Ijime?”

“Ya…apa sebagai kaum minoritas di Indonesia, kamu tidak di-diskriminasi?”

“Aaa…ya…ada…sedikit-sedikit.”

“Haa…yappari!” Ternyata Kim Sensei adalah tipe orang yang suka mengajukan pertanyaan ke lawan bicara untuk megarahkan percakapan ke dirinya sendiri. Ia kemudian dengan seru menceritakan masa kecilnya. Berpuluh-puluh tahun yang lalu, hidup di Jepang untuk orang-orang Korea tidaklah mudah. Mereka didiskriminasi. Letak Korea dan Jepang yang berdampingan membuat hubungan mereka tidak pernah benar-benar akur. Ada saja insiden-insiden yang menganggu hubungan kedua negara tersebut. Jepang pernah menduduki Korea di masa lalu, mereka juga berebut pulau dan wilayah laut di daerah perbatasan. Korea menuduh Jepang menyembunyikan kejahatan perang Jepang di masa lalu dan tidak mengajarkannya pada generasi muda di Jepang, sementara itu, ada orang-orang Jepang yang diculik oleh Korea Utara untuk dijadikan mata-mata. Sengketa bukan hanya terjadi dalam bidang geopolitis, bahkan dalam bidang budaya. Beberapa kasus hak cipta muncul karena para musisi Korea dianggap menjiplak karya artis Jepang.

40 tahun lalu, ketika Kim Sensei masih kecil, ketika isu hak asasi manusia belum menjadi standar, ia harus diam saja kalau teman-teman di sekolah mengejek-ejeknya. Dia dikata-katai, dikucilkan dan dianggap tidak ada. Sementara anak-anak lain berkejar-kejaran di halaman sekolah, buku adalah satu-satunya teman Kim Sensei selama waktu istirahat.

“Tapi sekarang tidak lagi lho! Orang Jepang sekarang sangat baik sama saya. Generasi muda sekarang malah tergila-gila dengan makanan Korea yang pedas, dan ibu-ibu kepincut sama bintang-bintang drama Korea.” Lagi-lagi Kim Sensei mengakhiri kalimatnya dengan tawa.

“Sekarang, saya bangga jadi orang Korea. Hokori ni omotte imasu. Murid-murid selalu bertanya ini dan itu tentang budaya kami. Karena tidak pernah tinggal di sana, saya jadi terpaksa mencari informasi ke sana ke mari. Saya belajar kebudayaan saya sendiri dari internet atau dari buku-buku. Semakin saya belajar, semakin saya cinta pada negeri saya.” Aku tersenyum dan mengangguk-angguk. Ada secercah perasaan iri yang tertahan.

“Tentu Rina-san mengerti perasaan saya. Semakin sering Rina-san bercerita tentang Indonesia, tentu semakin suka.”

“Ahh…umm…” Seandainya saja aku bisa mencintai negaraku setulus Kim Sensei.

“Sebenarnya…tidak juga…” aku memilih jujur daripada bohong menjaga citra.

“He..nande? Kenapa?”

“Saya justru merasa munafik. Menerima uang dari pekerjaan seperti ini. Memperkenalkan negara saya, supaya orang lain suka. Padahal, saya sendiri tidak.” Cerita Kim Sensei tentang masa kecilnya membuatku merasa dekat dengannya. Tidak ada salahnya berbagi dengannya. Pengakuanku pun mengalir begitu saja. Seperti bercerita ke seorang teman lama.

Kerusuhan sepuluh tahun yang lalu, pada bulan Mei 1998, telah mengubah jalan hidup keluargaku. Ruko kami dibobol dan dijarah. Untungnya orang tua dan adik laki-lakiku sudah mengungsi. Aku sendiri, sedang berada di Jepang. Setelah kejadian itu, mereka sempat kembali ke rumah untuk mengemas barang-barang yang masih tertingal. Keadaan di dalam rumah membuat Mama terlalu trauma untuk membereskannya kembali. Semua peralatan elektronik lenyap. Cermin di kamar Mama, pakaian dalam yang sedang dijemur, bahkan sendok pun diambil. Adikku masih sedikit beruntung. Piala kejuaraan bulu tangkis antar sekolah-nya masih utuh.

Papa kemudian memutuskan untuk hijrah ke Amerika. Ia percaya, Amerika adalah negara liberal yang benar-benar bisa menerima imigran dengan tulus. Berbekal surat keterangan polisi bahwa mereka telah dijarah, Papa berhasil mengantongi visa Asylum.

“Kenapa mereka tidak ke mari? ‘Kan di sini ada kamu?” tanya Kim Sensei.

“Mereka tidak mau menyusahkan saya. Sebagai mahasiswa yang hidup dari beasiswa yang pas-pasan, hidup saya sudah cukup sulit. Lagipula, susah bagi mereka untuk tinggal di negara yang bahasanya sama sekali asing.” Kim Sensei mengangguk-angguk. Matanya penuh dengan simpati keprihatinan.

“Ayah saya dulu usahawan di Indonesia, sekarang ia hanya jadi pengantar barang.” Dengan getir kubayangkan otot-otot Papa yang tidak muda lagi harus mengangkut beban berat ke sana ke mari.

“Ibu saya bekerja sebagai cleaning service.” Aku tidak bisa melupakan apa yang kulihat waktu pergi mengunjungi mereka di sana. Mama pulang larut malam seusai membersihkan gedung-gedung kantor. Ia mengenakan seragam biru pucat dengan nama yang tersulam di dada. Ada kerut-kerut lelah di wajahnya yang ia bawa pulang. Garis-garis yang dulu tidak ada karena selalu diulasi krim-krim kosmetik mahal yang dibelikan Papa sewaktu masih di Indonesia.

“Tapi adik kamu sekarang sekolah di sana ‘kan? Kalau dia sudah lulus dan bekerja, pasti kehidupan mereka akan jadi lebih baik.”

“Adik saya .. keluar dari rumah pun, tidak.” Entah apa yang dipikirkan Andre. Mungkin kejadian itu membuatnya jauh lebih shock daripada siapa pun juga. Andre si anggota OSIS, juara badminton, ketua kelas, Andre yang selalu mendapat telpon dari teman-teman perempuan, tiba-tiba saja harus pindah ke lingkungan baru pada masa yang labil. Mungkin bahasa Inggris yang asing baginya, yang membuatnya membisu. Mungkin juga dia kehilangan rasa percaya diri, begitu ia kehilangan pengagum-pengagumnya. Andre mengurung diri dalam kamar dengan komputer dan gitarnya. Ia tidak mau pergi ke sekolah dan hanya keluar pada jam-jam tertentu ke ruang makan dan kamar mandi. Ia seperti orang linglung. Seperti tanaman layu yang tiba-tiba dicabut dari akarnya.

“Dulu, waktu saya kecil, semuanya begitu indah. Kami diajar untuk cinta tanah air di sekolah. Saya percaya apa yang saya baca di buku pelajaran. Semua suku sama. Semua satu bangsa. Tapi ternyata…” Sehembus nafas yang berat keluar dari dadaku yang sesak.

“Saya merasa dikhianati. ” Lega. Kim Sensei pasti bisa mengerti perasaanku. Khawatir. Apa dia akan mengijinkan seorang munafik bercerita bak seorang patriotis kepada anak-anak muridnya? Malu. Aku penipu yang menjual cerita demi uang sepeser.

Tapi Kim Sensei justru menggelengkan kepalanya keras-keras.

“Tidak. Rina-san tidak perlu merasa dikhianati. Kamu tidak perlu merasa dirimu munafik. Tanah airmu ada di dalam hatimu. Teman-teman kamu, pelajaran di sekolahmu, lapangan tempat kamu bermain, lingkungan tempat kamu besar. Itu semua tidak akan berubah. Apa yang ada di dalam hatimu, tidak bisa direnggut oleh sebuah noda dalam sejarah. Kamu tetap orang Indonesia. Ke mana pun kamu pergi, di mana pun kamu tinggal. Rina-san tidak perlu berkecil hati. Rina-san bisa mencintai Indonesia dari jauh. Dan seandainya, kamu tidak sanggup mencintai Indonesia yang sekarang, cintailah Indonesia yang terekam dalam benakmu. Itu adalah kampung halamanmu. Itu tidak akan pernah berubah.”

Entah kapan terakhir kalinya aku merasa terhempas oleh kata-kata. Ucapan Kim Sensei seolah menyibakkan kabut, secercah sinar menghangatkan hatiku yang terluka.

“Arigatou Gozaimasu.” Ucapan terima kasihku hampir tidak terdengar, tersaru oleh suara bel pelajaran. Tapi Kim Sensei pasti tahu ia telah membuat mataku terbuka. Ia tersenyum senang. Pipinya berkilat-kilat merah.

“Sudah waktunya Rina-san mengajar.” Aku mengangguk dan mengikutinya dari belakang. Suara bangku-bangku yang digeser dan pintu-pintu yang terbuka membahana dengan semarak di lorong sekolah. Semeriah gemuruh di dadaku.

Aku bukan seorang munafik. Aku cinta kampung halamanku. Aku mau bercerita tentang gunung-gunung dan lembahnya. Tentang kehangatan mataharinya. Tentang keakraban yang ditawarkan orang tak dikenal di dalam bus. Tentang ibu pertiwi yang selalu ada di dalam hatiku. Tentang tanah air-KU.

 

Catatan

Shinkansen  -  kereta super cepat antar kota

Ohayou gozaimasu – selamat pagi

Desu ne – (afirmasi) ‘kan?

Hai – iya

Ookii – besar

Sou desu ne – (persetujuan) iya, betul

Youkoso – selamat datang

Sou desu – iya betul

Shitsurei desu ga – (dipakai untuk menanyakan sesuatu yang sensitif) Maaf,

Ijime – (Inggris : bully) diskriminasi

Hokori ni omotte imasu –merasa bangga

He..nande? – Eee…kenapa?

Arigatou gozaimasu – terima kasih

 

*Organisasi pendidikan yang dimaksud dapat dilihat di http://www.kokusai-kyoiku.or.jp/

Thursday, January 8, 2009

Lebih Dari Setahun-7

  “Gimana, mau nggak?” tanya Lily sekali lagi.                                                                

      “Sorry, kapan-kapan aja deh, lagi pengen nulis surat nih.”

      “Oh, ya udah deh..aku ke kamar Erik dulu.” Lily keluar dari kamar Maya dengan kecewa. Kadang-kadang ia memang tidak bisa mengerti sikap Maya. Tidak ada salahnya Maya pergi ke dapur sebentar dan berbincang-bincang dengan mereka. Tapi memang, sejak mereka bersama-sama belajar bahasa Jepang secara intensif di Jakarta, Lily sudah merasa bahwa Maya agak sulit dimengerti. Kadang-kadang ia bisa bercanda dan berceloteh dengan ceria dan centil, sekejap kemudian dia sudah menjadi serius dan dingin. Tidak perduli bagaimanapun keadaan sekeliling, Maya tidak pernah terpengaruh, dia punya pace sendiri.

 

       “Erik, mau ikut nyobain masakan Kak Ali nggak sama aku dan Japri di dapur lantai 2? “

       “Ooo...boleh.” Erik menjawab pendek, kemudian keluar dan mengunci kamarnya. Reaksinya jauh berbeda dengan Maya.

       “Tadi makan di mana sama senpai-senpai yang lain? “

       “Di Denny’s.” Denny’s adalah sebuah famiresu, singkatan dari  family resutoranto. Family restaurant di Jepang adalah tempat yang paling pas untuk makan bersama banyak orang karena mejanya besar-besar dan menunya bermacam-macam. Biasanya famiresu di Jepang dipegang oleh sebuah perusahaan besar yang membuka cabangnya di mana-mana dengan nama yang sama. Di mana-mana bisa ditemukan Denny’s, Royal Host, Sky Lark, Jonathan, Bld’y, semuanya hampir sama dengan sedikit variasi menu dan konsep yang berbeda.

 

       “Pulangnya udah lama?”

       “Hmm...satu jam yang lalu.” Tiba-tiba Lily terkikik geli.

       “Kenapa?”

       “Erik, kamu kalo ngomong, nggak pernah lebih dari satu kalimat ya?”

       “Eh..?!” Erik yang kaget karena dikritik langsung tidak bisa menjawab apa-apa an dan tersenyum saja. Erik kaget, sekaligus bingung. Semua orang di sekelilingnya tahu dia pendiam dan tidak terlalu mengusiknya. Mereka selalu membiarkannya tenggelam dalam dunianya sendiri. Sampai saat ini baru Lily saja yang pernah menembaknya dengan pertanyaan yang demikian langsung.

 

        Setelah makan malam Ali pun pamit dan pulang. Akhirnya..., pikir Lily. Mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Lily di lantai dua, lantai untuk anak perempuan dan, Japri di lantai 3 dan Erik di lantai 1, lantai untuk anak laki-laki.

Asrama mereka ini memang hanya terdiri dari 3 lantai. Bentuknya sama seperti bentuk standar asrama-asrama lainnya. Lorong panjang yang diapit oleh pintu-pintu kamar penghuni di kanan-kirinya. Di ujung lorong ada sebuah jendela besar yang menghadap ke halaman dan di ujung yang lainnya adalah pintu darurat. Di setiap lantai ada shower room dan WC yang terpisah. Kemudian dapur dan ruang cuci baju yang berisi 2 mesin cuci yang hanya bekerja kalau dimasukkan uang logam 100 yen, dan alat pengering yang menempel di tembok, yang juga tidak gratis.

 

       Lily masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya di kasurnya yang sekarang diselimuti bed cover kotak-kotak merah muda dan putih. Dindingnya juga telah selesai dilapisi dengan kertas kado yang berwarna senada. Keset kakinya juga. Lily sengaja memilih warna merah muda pucat karena dipikirnya warna ini akan serasi dengan warna karpet yang merah tua dan kusam. Tapi ternyata tidak membantu banyak.

       “Tok tok” Lily membuka pintu dan di depan kamarnya Erik berdiri.

       “Ly..wow..” Erik tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Begitu Lily membukakan pintu ia dapat melihat dinding kamar Lily yang seolah-olah dilapisi wall paper.

        “Bagus ya?” Lily pun membuka kamarnya lebih lebar lagi untuk memamerkannya. Erik memandang berkeliling dan terkagum-kagum.

 

         “Hi Lily ..oh wow..what did you do to your room?” Tiba-tiba gadis Rumania penghuni kamar seberang keluar dari kamarnya sambil memegang sebuah gelas berisi susu di tangannya. Ia mengenakan piama bergaris-garis warna biru muda. Rambutnya yang pirang diikat asal-asalan.

         “Oh...I couldn’t stand the dirty wall.” Lily tersenyum bangga memperlihatkan hasil karyanya kepada gadis Rumania yang bernama Francesca ini.

         “Oh, hi, how do you do ?”  Francesca pun menoleh ke Erik dan menyapanya dengan ramah. Erik mengangguk tersenyum.

         “Kalian sama-sama dari Indonesia ? “ Tanyanya ramah.

         “Yes.” Erik menjawab, lagi-lagi dengan pendek.

         “ O really ? But you two look different. It’s hard to tell you both came from the same country.” Francesca pun memandang Lily dan Erik bergantian.

         “Well, I’m real Indonesian, Erik is Chinese Indonesian.”

         “O, I see....I thought you came from China.” Erik hanya tersenyum-senyum saja. Francesca tertawa terkekeh-kekeh.

         “There are many, many kinds of people in Indonesia.” Lily pun menambah penjelasannya.

            “Ok, now that I learn something, I’ll go and warm my milk.” Francesca tersenyum dan pergi ke dapur untuk menghangatkan susunya dengan microwave.

 

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-Noncommercial-No Derivative Works 3.0 Unported License.

Thursday, December 11, 2008

Diet Sesudah Melahirkan-Banana Diet dr Jepang

Anak udah setahun, kok belon balik ke berat badan semula..udah gregetan deh. Gw udah sempet janjian sama suami, anak gw baru boleh punya adik sesudah gw balik ke berat badan asal. Gak mau ah kayak ibu2 yg wkt gadis kurus, hamil anak 1 tambah 5 Kg, anak ke-2 tambah 5 Kg..NO WAY!!

Setelah ditunggu-tunggu..kok gak turun-turun juga..? Suami udah mulai bernubuat, "Wah...kayaknya si Karin-chan bakal jadi anak tunggal nih.." GRRRR...

Banyak cewek yang langsung balik ke berat badan asal setelah melahirkan, katanya karena menyusui..well...sampai anak gw setahun lebih gw masih menyusui.

Banyak yang bilang karena stress merawat anak..well...gw sekarang merawat anak di luar negeri, all by myself, tanpa pembantu, org tua, baby sitter.

Banyak yang bilang orang beda-beda. Ada yang cepet, ada yang lambat...well...ini udah setahun.

THAT'S IT! Gak ada lagi alesan. Gw harus diet dengan serius!

Pas lagi browsing internet, liat2 apa sih yg nge-trend di Jepang (my second home, since I grew into adulthood there for almost 10 years), ternyata ada BANANA DIET. Sangat populer di kalangan ibu-ibu katanya. Soalnya ada seorang penyanyi Enka (musik jaman dulu, sejenis keroncongnya Indo) yang luar biasa gendut (beratnya seratus kilo lebih), berhasil turun 14 Kg dengan banana diet. Namanya Mori Kumiko.

Keuntungan banana diet ialah, gak perlu restrict makan makanan enak. Malah dianjurkan nyemil coklat. Aneh ya... Kalau es krim gak dianjurkan. Gak dijelaskan kenapa. (Gw akan bahas pemikiran gw sendiri di entry2 berikut di thread Diet ini)

Gw mulai banana diet dari pertengahan Oktober, dan sekarang, sesudah 2 bulan, gw turun 3 Kg. Of course, gw gabung dengan metode2 lain. But, let's focus on this one for now, OK?!

So, banana diet itu begini:

1. Cuma boleh sarapan pisang dan air putih. Gak boleh yang lain.

2. Pisangnya terserah berapa banyak. Tapi yang jelas harus pisang seger. Bukan pisang goreng (karena kita jadi makan minyak, tepung en gula) atau pisang kukus (karena enzim dlm pisang yang membantu metabolisme tubuh bisa rusak krn proses pemanasan)

3. Kalau mau minum teh, atau kopi utk sarapan, kasih jarak. Minimal 15 menit. Gw sih jarakin minimal 30 menit. Entah kenapa, gak dijelasin. Tapi mungkin takut mengganggu kerja enzim ya. Sama seperti obat yg sebaiknya diminum dengan air putih.

4. Makan siang, makan malam en cemilan, masih boleh jalan. No Restriction. Asik kan? Gw masih makan coklat, kue, kripik, krupuk dll. Gak tiap hari loo..

5. Selesaikan makan malam minimal 4 jam sebelum tidur. Ini membuat lambung kita bisa selesai bekerja sebelum kita tidur. Kalau masih kerja selama tidur, tidur kita gak pules. Tidur yang gak pules membuat metabolisme tubuh kacau.Gak bisa kurus deh...Pernah kan makan kebanyakan atau terlalu deket sama jam tidur sampe bangun2 perut masih kenyang. Ini gak bagus. Gak baik juga utk maag kita. Bayangin, dia gak istirahat. Padahal mungkin enzimnya udah gak keluar lagi karena kita istirahat. Bisa-bisa selaput bagian dalam lambung terkikis dan jadi ulcer (tukak lambung).

THE FACTS

1. Kalau anda org yang biasa sarapan nasi + lauk, mungkin bisa kelaperan kalau switch to banana diet drastically. So, coba deh secara gradual. Gw sendiri sarapan roti 2 tadinya. Terus gw ganti roti 1 banana 1. Setelah semingguan, jadi banana 2, seminggu lagi, banana 1. (kalau kurang kenyang ya hantem pisang lagi.) Kalau baru mulai, apalagi kalau biasa sarapan lengkap, pasti langsung keliatan deh, barang sekilo-dua kilo. Asupan kalorinya berkurang drastis soalnya.

2. Urusan belakang jadi lancarrrr...Hehehe..ini benar2 diet utk wanita. Cewek emang beda dg cowok, kalau stress sedikit gak bisa keluar. Kalau cowok kan bisa tiap hari ke belakang. Kalau cewe, it's now or never, take it or leave it. Kalau pagi2 mesti ngantor, mesti buru2 pergi, biasanya ngerasa pengen pun nggak. Tapi kalau weekend, males2an di kasur, langsung deh tuh, ada tanda-tanda. Tul gak?!

3. Gw sarapan sekitar jam 8. Banana 1. Jam 10-11 gitu, udah mulai laper deh tuh. Nah...mari kita mengemil sehat. Gw minum susu segelas. Susu itu kan protein, bisa bikin lambung kita sibuk untuk cukup lama. Atau gw makan banana lagi. Kadang-kadang, gak tiap hari loo..gw bisa juga nyemil biskuit en kue2. Tapi berdasarkan pengalaman susu is the best. Full protein, asam amino, kalsium, dan dia gak bergula. Susu sapi murni loo...jangan susu bubuk. Susu bubuk biasanya manis.

4. Sesudah makan malem, kadang2 tidur nya malem banget sehingga jadi laper lagi. Nah..kalau gak makan buah, ya gw minum susu lagi.

5. Satu lagi pro tentang banana diet: PRAKTIS. Gw gak perlu mikir besok sarapan apa, pokoknya asal ada banana gw OK. Terus, buat org yang sibuk mau ke kantor atau sekolah buru2, males masak, even manasin makanan sisa kemaren di microwave  juga males, banana is YOUR answer! Tinggal petik, kupas, GLUP. Mau dimakan sambil nyetir juga bisa kalee..

6. Eh..masih ada lagi...MURAH boo!!

Silvia Iskandar-Des 2008

Tuesday, December 9, 2008

Lebih Dari Setahun-6

“Senpai-senpai pada ngajakin makan.” Erik segera memecah kesunyian.

 “ Ooo...saya sudah janji sama Japri, kita mau masak malam ini. Lagipula Lily kalau kamarnya nggak diberesin malam ini bisangggak tidur lagi nih.” Lily kaget mendengar ucapan Ali. Dia sebenarnya ingin ikut makan bersama yang lain-lain dan melepaskan diri dari Ali.

 “Oo...kalau gitu kita pergi dulu ya.” Maya mengangguk dengan penuh pengertian ke arah Erik. Erik pun segera mengerti dan mereka berdua pergi.

 “Yang ini mau diapain Ly?” Ali mengeluarkan segulung besar kertas kado berwarna merah muda pucat.

 “Oh...itu mau dibuat wall paper.”

 “Ini ditempel semua di tembok?” Ali agak kaget. Walaupun kamar Lily kecil, bukanlah pekerjaan yang mudah untuk menutupi seluruh dindingnya dengan kertas kado berwarna.

 “Iya, habis temboknya kotor banget sih.” Ali memandang ke seluruh kamar, cat tembok mengelotok di sana-sini, bekas tempelan penghuni-penghuni sebelumnya. Bangunan ini sudah berdiri berpuluh-puluh tahun lamanya, dan setiap tahun selalu ditinggali oleh murid-murid dari luar negeri untuk belajar bahasa Jepang selama satu tahun. Tidak heran kalau setiap tahun dekorasi tiap kamar pun berganti sesuai selera penghuninya.

 

 

 “Oh iya ya..kotor banget, iya deh, aku yang kerjain.” Lily sekarang sudah benar-benar terperangkap. Aduh, pikirnya, mau sampai kapan nih Kak Ali di sini terus!

      Selama hampir tiga jam Ali dan Lily tak henti-hentinya menempeli dinding kamar Lily dengan kertas kado. Selama itu Ali banyak bercerita tentang dirinya. Lily, walaupun merasa tidak nyaman berduaan saja dengan Ali, tidak ingin menyinggung perasaan senpai-nya, ia tetap bersikap ramah.

      “Kak, mau makan sekarang nggak?” Japri muncul dengan membawa sebuah kantong plastik besar.

      “Makan sekarang yuk, Ly?” Lily mengangguk. Perasaan lega mengalir memenuhi dirinya. Bertiga bersama Japri jauh lebih baik daripada berduaan saja.

Di dapur umum, Ali, yang sudah dua tahun hidup mandiri di Jepang mempertunjukkan kebolehannya memasak sementara Lily dan Japri kebagian tugas memotong sayuran.

       “O iya, ajak Maya dan Erik juga kali ya, siapa tahu mereka juga mau nyicip-nyicip” Lily tiba-tiba teringat akan mereka berdua. Tatapan mata Maya dan Erik yang gugup di depan pintu kamarnya waktu melihatnya berduaan saja dengan Ali tak lepas-lepas dari benaknya. Ia takut semua orang berpikir bahwa ia dan Ali punya hubungan khusus, bisa-bisa Maya dan Erik menjauhinya hanya karena mereka merasa perlu memberi waktu pribadi untuk dirinya dan Kak Ali.

 

 

       “Maya lagi ngapain?” Lily membuka pintu kamar Maya setelah dipersilahkan masuk. Maya yang duduk menghadapi meja belajarnya menoleh, “Lagi nulis surat buat temen.”

       “Lho, kenapa nggak pake mail aja? ‘Kan lebih cepet nyampe, nggak pegel nulis lagi.”

       “Lain Ly, rasanya, nerima mail sama nerima surat di kotak pos.”

       “Mau makan sama2 nggak? Masakan Kak Ali.”

       “Nggak ah, takut mengganggu” Maya mengedipkan matanya. Lily mengernyitkan keningnya, hal yang ditakutkannya sudah terjadi.

       “Nggak kok, orang kita makan malam bertiga sama Japri.”

       “Ooo...pantesan Japri juga nggak mau diajak ya,  mereka masak daging halal ya?”

       “Iya tuh, katanya, mau bikin kari ayam.”

 

        Di Jepang, negara yang penduduknya boleh dibilang tak beragama, sangat sulit bagi pemeluk agama Islam untuk bisa makan di luar, karena jarang ada makanan halal. Kalau pun makan di luar, mereka memesan sea food. Ada tempat-tempat khusus yang menjual daging halal. Toko khusus daging halal ini sudah  menjadi tempat wajib kunjung bagi para pendatang baru yang beragama Islam, khususnya murid-murid Indonesia dan Malaysia. Ali juga telah mengantarkan Japri ke toko ini pada hari kedua Japri di Jepang.

Monday, November 24, 2008

Lebih Dari Setahun-5

Minggu itu berlalu dengan cepat dan padat. Mereka dibawa keliling kota oleh para senpai. Ke ToKyoutower, ke Shinjuku Gyouen yang dipenuhi pohon sakura, ke tempat-tempat belanja yang murah.

“Ini namanya hyaku en shoppu-toko seratus yen, semua barang di sini harganya cuma 100 yen. Kamu nggak pengen beli apa-apa Ly?” tanya Kak Ali, “katanya kamu mau mendisain kamar kamu supaya lupa sama ukurannya yang kecil banget.”

“Ha ha ha…iya ya..bener tuh..kalau nggak dipercantik, bisa nggak betah nih..” Bagi Lily yang sangat memperhatikan kebersihan dan kerapihan kamar, berada di sebuah kamar yang sumpek dan kusam benar-benar menyiksanya. Dua hari ini dia hampir tidak bisa tidur karena tidak henti-hentinya berpikir bagaimana membuat kamarnya tampak lebih indah.

“Wah…bagus banget nih keset kakinya….” Lily menarik sebuah keset kaki yang terlipat dan membukanya lebar-lebar.

“Nah, kalau kamu beli bed cover ini, kan warnanya jadi senada, hmmm..atau warna kuning ini bisa bikin kamar kamu jadi lebih cerah deh kayaknya.”

“O iya ya..wah..sendalnya juga cakep-cakep..kawaii.!!” Lily segera menjamah sendal-sendal kain yang terpajang di sudut toko. Ia thampir tidak mempercayai matanya. Di Jakarta ia sudah terbiasa melihat benda-benda yang harganya dihiasi angka nol yang berbaris tak henti-hentinya. Tapi di sini semuanya ia bisa dapatkan dengan hanya 100 yen!!

“Duh, nggak nyangka ya di Jepang ternyata bisa belanja murah juga.”

“Ya nggak lah Ly, kalau dirupiahin ya tetep mahal kok. “ celetuk Japri, “semua yang ada di toko ini harganya sekitar 7500 rupiah ‘kan?” celetuk Japri yang kebetulan berada di dekat mereka.

“Ha ha ha..iya tuh bener kata Japri, jangan sampai tertipu ya kamu.” Kak Ali menepuk-nepuk kepala Lily dengan gemas. Lily dapat melihat dari sudut matanya kalau Japri, Erik dan Maya agak kaget melihat tindakan Kak Ali ini. Dia sendiri juga kaget, tapi bisa apa lagi?

 

 

 Mereka pulang ke rumah dengan membawa banyak barang. Tapi yang paling banyak dia sendiri. Belanjaannya kira-kira 2 kali lipat belanjaan Maya dan Erik, Japri malah tidak membeli apa-apa. Ali membantunya membawa belanjaannya sampai ke kamarnya sementara senpai-senpai yang lain menunggu di shokudou-.

 “Belanja apa aja sih kamu Ly?  Di Indo juga biasa ngeborong ya?” Ali meletakkan barang-barang Lily di atas karpet dan duduk di kasur Lily.

 “Iya nih, abis aku nggak betah tinggal di kamar yang kecil dan gelap kayak gini. Udah dua hari ini nggak bisa tidur nyenyak.”

 “Ya ampun, kasihan amat…aku bantuin ngedekor kamar kamu deh..”

 “Lho, bukannya udah mesti pulang ? “

 “Ah, nggak papa...besok nggak ada apa-apa ini.” Lily semakin bingung, dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya dia menyerah. Dibiarkannya Kak Ali berbuat sesuka hatinya.

 “Ly..eh Kak Ali..” Tiba- tiba Erik dan Maya sudah berdiri di depan kamar Lily yang memang sengaja dibiarkan terbuka lebar-lebar karena Lily merasa tidak nyaman berada berduaan dengan Ali dalam kamar tertutup. Ali mengangguk dan tesenyum. Lily cuma bisa tersenyum, ia malu terlihat berduaan dengan Ali sementara senpai-senpai lainnya menunggu di shokudou.

Tuesday, October 21, 2008

Lebih Dari Setahun-4

Hari-hari selanjutnya berlalu dengan cepat dan melelahkan. Begitu banyak yang harus mereka lakukan. Keesokkan harinya mereka harus menandatangani berkas-berkas dari bank untuk membuka rekening di mana beasiswa mereka akan dikirimkan oleh pemerintah Jepang.Berkas-berkas yang harus ditulis dengan huruf Jepang, katakana untuk nama mereka dan kanji untuk alamat mereka.

 

 

Bahasa Jepang memakai tiga huruf  secara bersamaan. Hiragana, lekukannya yang lembut seolah mengutarakan asal-usul bagaimana huruf ini dulunya hanya dipakai oleh kaum wanita kerajaan , dipakai untuk kata-kata Jepang asli, katakana yang tarikannya lebih tegas dan kaku dahulu merupakan alat komunikasi tertulis samurai-samurai kelas atas dalam shogun-pemerintahan militer,  dipakai untuk kata-kata asing yang diserap dari luar negeri, misalnya aisu kuri-mu-ice cream, chokore--to-coklat, atau nama-nama orang asing juga. Kemudian kanji, huruf serapan hasil interaksi dengan Cina di masa lampau, yang dipakai untuk istilah-istilah yang telah baku.

 

 

       “Terus tulis alamatnya gimana , Kak?” Di samping Lily, Ali, salah seorang senpai yang menyambut kedatangan mereka kemarin sibuk megajarinya bagaimana mengisi berkas-berkas yang sekian banyaknya. Selain berkas-berkas rekening bank, mereka juga harus mengisi format administratif dari sekolah dan juga surat pengurusan kartu identitas selama mereka di Jepang.

 

 

       Maya melihat ke sekelilingnya. Mereka sedang berada di dalam sebuah ruang kelas yang agak tua. Sebuah papan tulis di depan dan bangku-bangku panjang yang berbaris di atas lantai yang bertingkat-tingkat seperti gedung bioskop. Di sana-sini terdapat kelompok-kelompok kecil senpai-kohai dari berbagai negara, sama seperti kelompok mereka sekarang. Di dekat papan tulis duduk kelompok dari Malaysia, yang di dekat pintu masuk adalah kelompok dari Kamboja, kemudian berturut-turut di baris belakangnya kelompok Singapura, Australia, Filipina, dan beberapa orang lagi yang dibantu langsung oleh sensei-sensei. Ia sempat berkenalan dengan beberapa orang malam sebelumnya. Tepatnya, Lily yang dengan aktif mengajak orang-orang berkenalan, sementara dia yang berada di dekatnya juga jadi ikut-ikutan berkenalan. Maya melihat Lily yang duduk di ujung bangku yang sedang didudukinya. Sementara Erik, Japri dan ia sendiri diajari bagaimana cara mengisi formulir-formulir ini secara bersamaan, Kak Ali dengan setianya duduk di samping Lily dan mengajarinya satu-persatu.

 

 

Apa sih yang menarik dari Lily? begitu pikirnya. Wajahnya biasa-biasa saja, rambutnya yang ikal itu malah kadang-kadang terlihat kusam dan berantakan. Maya tidak mengerti mengapa Lily begitu cepat mengakrabkan diri dengan orang-orang baru. Tadi pagi ketika mereka menyantap makan pagi di shokudou-kantin di mana mereka kemarin disambut para senpai, sudah ada 5 orang dari negara lain yang menyapanya.

 

 

“Hi Lily, did you sleep well ?” sapaan yang biasa saja, tapi sapaan-sapaan itu cuma ditujukan untuk Lily, padahal mereka sedang makan pagi berempat. Kak Ali duduk di sebelah Lily dan mereka berdua tampak begitu asik tertawa-tawa padahal mereka hanya mengisi berkas-berkas yang membosankan, sama seperti dirinya.

Tuesday, October 14, 2008

Lebih Dari Setahun-3

      Hari itu mereka menyantap bento pertama mereka dikelilingi 20-an orang senpai yang namanya langsung terlupakan segera setelah selesai berkenalan. Mereka terlalu banyak untuk bisa diingat dalam sekejap. Bento adalah lunch box khas Jepang yang lauknya macam-macam, mulai dari tempura, yakiniku, potato salad, sampai asinan lobak dan wortel. Semuanya tertata rapi dalam box styrofoam yang bersekat-sekat. Di tengah-tengahnya terdapat  nasi putih yang mengepul dihiasi sebutir umeboshi-semacam aprikot Jepang sebesar kelereng yang diasinkan, kemudian di sekelilingnya diletakkan lauk-lauk lainnya.

 

 

       “Ini tradisi dari tahun ke tahun lho, senpai-senpai pasti nraktir bento pertama kohai-kohai.”

       “Kalian juga tahun depan mesti begini sama kohai kalian”

       “Kohai itu apa sih ? Kok dari tadi sering banget dipake?” tanya Lily sambil berusaha keras membiasakan jari-jarinya dengan sumpit yang hampir tidak pernah dipakainya.

       “Kohai itu artinya adik kelas, senpai itu artinya kakak kelas. Kita senpai, kalian kohai.”

       “Lily sama Japri susah ya pake sumpitnya?” Seorang senpai perempuan dengan senyum yang manis menanyakan dengan ramah.

       “Iya nih..jarang makan pakai sumpit sih.Gimana sih cara megang yang bener ?” Seorang senpai lain segera mendemonstrasikan bagaimana cara memakai sumpit yang benar kepada Lily. Senpai-senpai lainnya juga tidak mau kalah dan masing-masing mengutarakan teori memegang sumpit mereka.

       “Ah, ngaco kamu Di, bukan gitu caranya !! Gini nih!!!”

       “Ah, dasar kamu cuma ngomong doang.  Yang sampe setahun di Jepang masih bawa-bawa sendok dan garpu ke mana- mana kan kamu juga!! “ Suara tawa mereka semua memenuhi ruangan.

 

 

Hanya Japri yang tidak bisa tertawa lepas, ia menyengir sinis. Ia merasa disindir. Tentu saja Maya dan Erik terbiasa memakai sumpit,, mereka Cina. Cukup melihat sekali saja untuk mengetahui hal itu. Kulit mereka tidak segelap dirinya, mereka berdua berasal dari SMA yang sama, yang murid-muridnya 80% Cina semua. Erik sempat bersekolah di Amerika sambil menunggu pengumuman apakah ia bisa ke Jepang atau tidak. Maya selalu diantar jemput supirnya setiap kali mereka semua harus pergi ke kedutaan besar Jepang di Jakarta atau pergi kursus bahasa Jepang intensif di pusat kebudayaan bahasa Jepang di Jakarta dulu. Berbeda dengan dirinya yang harus naik bus PATAS pulang pergi ke tempat kosnya yang tidak ber-AC, yang baru pernah pertama kali ke luar negeri, yang lebih sering makan dengan tangan daripada sendok dan garpu, apalagi sumpit.